Bengkulu, 17 April 2025 — Sebuah pelatihan simulasi bencana air yang melibatkan mahasiswa keperawatan dari dua negara sukses digelar di kawasan Pantai Panjang, Bengkulu. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Poltekkes Kemenkes Bengkulu dan University of Luzon, Filipina, dalam rangka berbagi pengetahuan mengenai manajemen krisis dalam situasi bencana air.



Bertempat di Rafflesia Beach Club, para mahasiswa keperawatan dari College of Nursing University of Luzon (ULCONM SNs) ikut ambil bagian dalam simulasi nyata penanganan korban bencana air. Kegiatan ini dirancang menyerupai kondisi darurat sesungguhnya, lengkap dengan pelatihan triase, respon cepat, dan kerja tim yang solid dalam suasana penuh tekanan.


Dekan College of Nursing University of Luzon, Jordan Llgo, Ph.DN, mengungkapkan rasa kagumnya terhadap kegiatan ini. “Simulasi ini luar biasa dan sangat terorganisir. Ini adalah pengalaman mendalam yang biasanya dilakukan selama tahap akhir pelatihan keperawatan. Menghadirkan suasana nyata di lokasi yang indah seperti pesisir Bengkulu memberikan nilai tambah yang luar biasa,” ujar Llgo




.Sementara itu, dosen Manajemen Bencana Poltekkes Bengkulu, Ernis Buston, M.Kes, menekankan pentingnya kolaborasi ini sebagai praktik belajar bersama lintas negara. “Ini bukan hanya pelatihan teknis, tapi juga pertukaran pengetahuan budaya dan sistem manajemen bencana yang berbeda. Mahasiswa belajar langsung bagaimana beradaptasi dan bekerja sama dalam skenario darurat internasional,” katanya.
Mahasiswa asal Filipina, Loraine, menyampaikan pengalamannya dalam kegiatan ini. “Saya sangat terkesan dengan bagaimana tim Indonesia menangani skenario darurat. Kami belajar banyak tentang kecepatan respon dan komunikasi lintas tim. Ini pengalaman yang sangat berharga bagi saya sebagai calon perawat.”Sementara itu, Riyan, mahasiswa Poltekkes Kemenkes Bengkulu, juga merasa senang bisa terlibat dalam kegiatan lintas negara ini. “Kerja sama dengan teman-teman dari Filipina membuka wawasan baru tentang pendekatan penanganan bencana. Kita belajar saling memahami dan berbagi cara yang berbeda tapi saling melengkapi.”


Simulasi ini menjadi bagian dari program pertukaran dan kolaborasi akademik antara kedua institusi, yang diharapkan dapat terus berlanjut untuk memperkuat kapasitas tenaga kesehatan muda dalam menghadapi situasi bencana, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

No responses yet