
Topik pengabdian masyarakat (Pengabmas) yang diusung oleh Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu dan TIM ini sangat strategis. Menggabungkan peran kader kesehatan (pendekatan kultural/komunitas) dengan media sosial (pendekatan teknologis) merupakan langkah cerdas untuk mengoptimalkan manajemen penyakit kronis seperti Diabetes Mellitus (DM) secara berkelanjutan.

Pengendalian kadar gula darah merupakan pilar utama dalam pengelolaan Diabetes Mellitus (DM) untuk mencegah komplikasi jangka panjang dan meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes.
Berdasarkan pedoman dari Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) dan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), terdapat 5 pilar utama dalam penatalaksanaan dan pengendalian diabetes mellitus secara holistik:
1. Edukasi
Pemahaman yang baik mengenai penyakit diabetes sangat penting. Pasien dan keluarga perlu memahami:
- Makna dan pentingnya pengendalian kadar gula darah secara berkelanjutan.
- Mengenal gejala kedaruratan seperti hipoglikemia (gula darah terlalu rendah) dan hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi) beserta pertolongan pertamanya.
- Pentingnya kepatuhan jangka panjang terhadap pengobatan dan perubahan gaya hidup.
2. Terapi Gizi Medis (Pengaturan Makan)
Pengaturan pola makan disesuaikan dengan kebutuhan kalori masing-masing individu, namun secara umum menerapkan prinsip 3J:
- Jumlah Kalori: Disesuaikan dengan berat badan, tinggi badan, usia, dan aktivitas fisik guna mencapai berat badan ideal.
- Jadwal Makan: Diupayakan tepat waktu (biasanya dibagi menjadi 3 makanan utama dan 2–3 kali makanan selingan).
- Jenis Makanan: Membatasi karbohidrat sederhana (gula pasir, sirup, kue manis), serta meningkatkan konsumsi karbohidrat kompleks (nasi merah, gandum) dan serat (sayuran).
3. Aktivitas Fisik (Olahraga)
Olahraga membantu meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin, sehingga gula darah lebih mudah dikontrol.
- Durasi & Frekuensi: Dianjurkan melakukan olahraga intensitas sedang selama 30–45 menit per hari, minimal 3–5 kali seminggu (total sekitar 150 menit per minggu).
- Jenis Olahraga: Jalan cepat, bersepeda santai, berenang, atau senam diabetes. Hindari gaya hidup sedenter (terlalu banyak duduk).
4. Intervensi Farmakologis (Obat-obatan)
Jika pengaturan gaya hidup (makan dan olahraga) belum mampu mencapai target gula darah, dokter akan memberikan terapi obat. Terapi ini bersifat personal dan tidak boleh diubah atau dihentikan tanpa pengawasan medis:
- Obat Antihiperglikemia Oral (OHO): Berupa tablet yang bekerja dengan berbagai cara, seperti meningkatkan produksi insulin atau mengurangi resistensi insulin (contoh: Metformin).
- Terapi Injeksi: Menggunakan suntikan insulin atau GLP-1 receptor agonist apabila produksi insulin alami tubuh sudah sangat menurun atau pada kondisi medis tertentu.
5. Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM)
Memantau kadar gula secara berkala di rumah menggunakan alat pengukur glukosa darah (glukometer) sangat membantu untuk mengevaluasi efektivitas terapi dan mendeteksi naik-turunnya gula darah secara mendadak.
Target Kendali Gula Darah Dewasa (Secara Umum):
- Glukosa Darah Puasa (GDP): 80–130 mg/dL
- Glukosa Darah 2 Jam Setelah Makan (GD2PP): < 180 mg/dL
- HbA1c: < 7,0% (mencerminkan rata-rata gula darah dalam 3 bulan terakhir)


No responses yet