Topik pengabdian masyarakat (Pengabmas) yang diusung oleh tim Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu dan TIM ini sangat strategis. Menggabungkan peran kader kesehatan (pendekatan kultural/komunitas) dengan media sosial (pendekatan teknologis) merupakan langkah cerdas untuk mengoptimalkan manajemen penyakit kronis seperti Diabetes Mellitus (DM) secara berkelanjutan.

Latar Belakang & Urgensi Kegiatan

  • Masalah Mitra: Tingginya angka penderita DM di wilayah kerja Puskesmas Kuala Lempuing dan keterbatasan jangkauan pemantauan harian oleh petugas puskesmas.
  • Peran Kader: Kader kesehatan di tingkat RT/RW sudah terbentuk namun sering kali belum optimal dalam memanfaatkan teknologi digital untuk pemantauan dan edukasi kesehatan terstruktur.
  • Solusi Digital: Media sosial (seperti WhatsApp Group, Instagram, atau TikTok) dapat memangkas jarak dan waktu, memberikan pengingat (reminders) harian terkait kepatuhan minum obat, diet seimbang, dan aktivitas fisik bagi penderita DM.

2. Tujuan Kegiatan

  • Tujuan Umum: Meningkatkan kemandirian penderita DM dalam mengendalikan kadar gula darah melalui pendampingan kader berbasis media sosial.
  • Tujuan Khusus:
    1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader keperawatan komunitas dalam edukasi DM.
    2. Melatih kader membuat dan menyebarkan konten edukasi kesehatan yang valid melalui media sosial.
    3. Menurunkan atau menstabilkan rata-rata kadar gula darah sewaktu (GDS) / puasa (GDP) pada penderita DM yang menjadi sasaran intervensi.

3. Metode Pelaksanaan (Action Plan)

Aktivitas Pengabmas ini sebaiknya dibagi menjadi 3 tahapan utama:

[Tahap 1: Persiapan & Asesmen] ➔ [Tahap 2: Pelatihan & Implementasi] ➔ [Tahap 3: Monitoring & Evaluasi]

📋 Tahap 1: Persiapan & Baseline Data

  • Koordinasi dengan Kepala Puskesmas dan Pemegang Program PTM (Penyakit Tidak Menular) Puskesmas Kuala Lempuing.
  • Perekrutan kader kesehatan (misal: 10–15 orang kader).
  • Pengumpulan data awal (baseline data) penderita DM dampingan, meliputi karakteristik demografi dan kadar gula darah awal.

🏫 Tahap 2: Pelatihan Kader (Capacity Building)

Tim Dosen Poltekkes Kemenkes Bengkulu memberikan pelatihan intensif dua arah:

  • Materi Klinis Keperawatan: Manajemen diet DM (3J: Jadwal, Jumlah, Jenis), pentingnya aktivitas fisik, pencegahan luka diabetes, dan kepatuhan pengobatan.
  • Materi Digital Literasi: Cara menggunakan media sosial secara bijak, pembuatan konten edukasi visual sederhana (misalnya lewat aplikasi Canva), dan teknik mengelola WhatsApp Group khusus penderita DM (grup berbasis wilayah bimbingan).

📱 Tahap 3: Pendampingan Berbasis Sosial Media

  • Kader membuat grup edukasi atau menyebarkan konten edukatif secara berkala (misal 2-3 kali seminggu).
  • Kader memantau secara mandiri/berkala kondisi penderita (misal melalui form checklist digital atau kunjungan rumah yang hasilnya diunggah/dilaporkan secara digital ke tim Puskesmas).

4. Target Luaran (Output & Outcome)

Indikator KeberhasilanTarget Pencapaian
Kapasitas KaderPeningkatan nilai post-test pengetahuan kader sebesar $\ge 80\%$.
Media SosialTerbentuknya platform edukasi (grup WA/akun info) yang aktif membagikan konten edukasi DM tervalidasi.
Kondisi Klinis PasienPenurunan atau stabilisasi kadar gula darah penderita DM setelah intervensi (misal selama 1-3 bulan pemantauan).
Luaran AkademikJurnal Pengabdian Masyarakat Terakreditasi (Sinta), publikasi media massa, dan video kegiatan di YouTube resmi Poltekkes Bengkulu.
Tags

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *