Penutupan Praktik Profesi Ners Elektif dari Poltekkes Kemenkes Bengkulu di hadiri oleh dosen pembimbing akademik Ns. Andra Wijaya, S.Kep., M.Kep. PPN Elektif merupakan salah satu program stase peminatan khusus (elektif) yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa program profesi untuk mengasah kompetensi klinis di luar wilayah Bengkulu. Salah satu lahan praktik utama yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Islam (RSI) Jakarta Pondok Kopi.

Tujuan Stase Elektif

Stase elektif dirancang agar mahasiswa Co-Ners dapat:

  • Mendapatkan pengalaman langsung di rumah sakit tipe besar dengan dinamika klinis yang lebih kompleks dibanding fasilitas kesehatan daerah.
  • Mengaplikasikan asuhan keperawatan profesional yang komprehensif (bio-psiko-sosio-spiritual).
  • Mempelajari manajemen pelayanan kesehatan, keselamatan pasien (patient safety), serta integrasi nilai-nilai pelayanan islami yang diterapkan di RSI Jakarta Pondok Kopi.

mahasiswa profesi ners mendapatkan peserta terbaik askep medikal bedah: ⁠Bobby Ardiansyah, M.Asepta dan Nuraini.S

Asuhan Keperawatan (Askep) Medikal Bedah biasanya disematkan kepada perawat atau mahasiswa keperawatan yang menunjukkan kinerja, kompetensi klinis, dan pemahaman teori paling unggul selama mengikuti pelatihan, orientasi, atau stase (praktik) keperawatan medikal bedah (KMB).

1. Kompetensi Klinis & Teoretis

  • Ketepatan Menegakkan Diagnosa: Mampu merumuskan diagnosa keperawatan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) secara akurat berdasarkan data objektif dan subjektif pasien.
  • Rencana Intervensi (SIKI/SLKI): Menyusun intervensi yang rasional, berbasis bukti (evidence-based practice), dan memiliki target luaran yang jelas.
  • Keterampilan Tindakan (Skill Pasang Infus, Kateter, dll): Memiliki efisiensi dan sterilitas yang tinggi saat melakukan tindakan invasif maupun non-invasif di bangsal bedah atau dalam.

2. Berpikir Kritis (Critical Thinking)

  • Mampu mendeteksi penurunan kondisi pasien (early warning system) secara cepat.
  • Tanggap dalam melaporkan kondisi darurat kepada dokter dengan metode komunikasi yang terstruktur (seperti SBAR: Situation, Background, Assessment, Recommendation).

3. Sikap Profesional & Etika (Attitude)

  • Komunikasi Terapeutik: Menunjukkan empati yang tinggi dan mampu menenangkan pasien serta keluarga yang cemas menghadapi operasi atau penyakit kronis.
  • Kedisiplinan: Tepat waktu dalam berdinas, patuh pada SOP rumah sakit, dan tertib dalam melakukan dokumentasi keperawatan (anti-menunda tulisan askep).

Tags

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *